Indikasi dan Efek Samping Codeine

IMG_20170512_164838_5358

Codeine adalah obat golongan analgesik opioid yang digunakan untuk meredakan rasa nyeri ringan hingga berat. Obat ini bekerja secara langsung pada sistem saraf pusat untuk mengurangi rasa sakit yang dialami. Dalam kasus tertentu, codeine juga dapat digunakan untuk meringankan gejala batuk dan mengobati kondisi diare akut. Codeine dapat memicu ketergantungan jika tidak dikonsumsi sesuai dengan anjuran dokter. Pastikan Anda tidak menambah dosis atau menghentikan pengobatan secara mendadak agar terhindar dari gejala putus obat atau efek samping berbahaya lainnya, seperti napas pendek, overdosis, atau kematian.

  • Kodeina atau kodein (bahasa Inggris: codeine, methylmorphine) ialah asam opiat alkaloid yang dijumpai di dalam candu dalam konsentrasi antara 0,7% dan 2,5%. Kebanyakan kodein yang digunakan di Amerika Serikat diproses dari morfin melalui proses metilasi.
  • Kodein yang terkonsumsi akan teraktivasi oleh enzim CYP2D6[2] di dalam hati[3] menjadi morfin, sebelum mengalami proses glusuronidasi, sebuah mekanisme detoksifikasi bagi xenobiotik.
  • Walau bagaimanapun, morfin tersebut tidak dapat digunakan, mengingat 90% kodein yang diambil akan dimusnahkan dalam usus halus (rembesan dari hati) sebelum berhasil memasuki peredaran darah. Oleh itu, kodein seolah-olah tidak brpengaruh atas penggunanya, namun efek samping seperti analgesia, sedasi, dan kemurungan pernapasan masih terasa.
  • Kodein digunakan sebagai peredam sakit ringan. Kodein selalu dibuat dalam bentuk pil atau cairan dan bisa diambil baik secara sendirian atau gabungan dengan kafeina, aspirin, asetaminofen, atau ibuprofen. Kodein sangat berperan untuk meredakan batuk.
  • Seperti semua jenis opioid, penggunaan kodeina yang berkelanjutan mengakibatkan ketergantungan secara fisik dan psikologi. Sebuah kelompok yang bernama Codeine Free didirikan untuk membantu mereka yang mengalami ketergantungan pada kodeina.
  • Kodein merupakan obat yang paling banyak digunakan dalam perawatan kesehatan.

Merek Dagang: Codikaf, Codipront, Coditam

Tentang Codeine

Golongan Analgesik opioid
Kategori Obat resep
Manfaat –       Meredakan rasa nyeri ringan hingga berat-       Meringankan gejala batuk

–       Mengobati kondisi diare akut

Dikonsumsi oleh Dewasa dan anak-anak usia di atas 12 tahun
Kategori kehamilan dan menyusui
  • Kategori C:  Studi pada binatang percobaan memperlihatkan adanya efek samping terhadap janin, namun belum ada studi terkontrol pada wanita hamil. Obat hanya boleh digunakan jika besarnya manfaat yang diharapkan melebihi besarnya risiko terhadap janin.
  • Kategori D (untuk penggunaan jangka panjang): Ada bukti positif mengenai risiko terhadap janin manusia, tetapi besarnya manfaat yang diperoleh mungkin lebih besar dari risikonya, misalnya untuk mengatasi situasi yang mengancam jiwa.
Bentuk obat Tablet dan suntik

Peringatan:

  • Hindari mengonsumsi codeine jika Anda menderita gangguan pada saluran pernapasan, seperti asma atau hiperventilasi, atau jika menderita penyumbatan pada usus atau lambung.
  • Waspada bagi pengguna yang memiliki penyakit ginjal, penyakit hati, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), apnea tidur, hipertensi, trauma kepala, memiliki tumor otak, kelainan mental, kelainan pada pankreas, pembengkakan pada prostat, kesulitan buang air kecil, myasthenia gravis, kelainan kelenjar adrenal (misalnya penyakit Addison), atau gangguan tiroid.
  • Beri tahu dokter jika Anda sedang atau pernah mengalami ketergantungan narkoba atau alkohol, sedang mengonsumsi obat-obatan sedatif seperti diazepam, atau sedang menjalani pengobatan untuk depresi, penyakit Parkinson, pusing dan migrain, infeksi serius, atau mual dan muntah.
  • Bagi anak-anak di bawah usia 18 tahun yang baru menjalani operasi amandel atau kelenjar getah bening (adeniod), disarankan untuk tidak mengonsumsi codeine, kecuali diinstruksikan dokter.
  • Jika terjadi reaksi alergi atau overdosis setelah menggunakan codeine, segera temui dokter.

wp-1515050664975..jpgDosis Codeine

Dokter akan menyesuaikan dosis codeine dengan kondisi dan respons pasien terhadap pengobatan ini. Berikut adalah dosis yang umumnya disarankan untuk codeine bentuk oral atau tablet:

Kondisi Dosis
Nyeri ringan hingga berat
  • Dewasa:  15-60 mg tiap 4 jam. Dosis maksimal per hari adalah 360 mg.
  • Anak-anak di atas 12 tahun: 0.5-1 mg/kgBB yang diberikan tiap 4 atau 6 jam. Maksimal dosis per hari adalah 240 mg.
Gejala batuk
  • Dewasa: 15-30 mg tiap 3-4 jam.
  • Anak-anak: 3 mg untuk anak usia 2-5 tahun, dan 7.5-15 mg untuk anak usia 6-12 tahun. Dosis umumnya diberikan tiap 3-4 jam.
Diare akut
  • Dewasa: 

15-60 mg tiap 3-4 jam.

Bagi yang memerlukan pengobatan menggunakan codein suntik, dosis akan disesuaikan oleh dokter dengan kondisi pasien di rumah sakit.

Menggunakan Codeine dengan Benar

  • Ikuti anjuran dokter dalam mengonsumsi codeine. Obat ini bisa diminum sebelum atau sesudah makan. Telan obat secara langsung dengan menggunakan air putih. Jika Anda merasa mual, obat dapat dikonsumsi dengan bantuan susu atau pada saat makan.
  • Pastikan Anda minum 8 gelas air putih setiap hari saat menjalani pengobatan dengan codein untuk menghindari konstipasi.
  • Konsumsilah codeine sesuai dengan dosis yang diberikan dokter. Jangan menambah atau mengurangi dosis tanpa berkonsultasi terlebih dahulu karena berpotensi memicu efek samping berbahaya, seperti gejala putus obat hingga overdosis.
  • Disarankan untuk tidak mengonsumsi alkohol saat menjalani pengobatan ini guna menghindari efek samping.
  • Codeine dapat menyebabkan efek kantuk dan pusing. Disarankan untuk tidak mengemudi atau mengoperasikan alat berat setelah mengonsumsi obat ini.
  • Jika Anda lupa mengonsumsi codeine, disarankan untuk segera melakukannya jika jeda dengan jadwal konsumsi berikutnya tidak terlalu dekat. Jika sudah dekat, abaikan dan jangan menggandakan dosis.

Interaksi Obat

Berikut ini adalah beberapa risiko yang mungkin terjadi jika menggunakan codeine bersamaan dengan obat-obatan tertentu, di antaranya:

  • Dapat menimbulkan efek tambahan yang berpotensi fatal jika dikonsumsi bersama dengan obat penghambat enzim monoamine oxidase inhibitor (MAOI).
  • Meningkatkan efek depresan jika digunakan dengan obat-obatan golongan anestesi, asam trikloroasetat (TCA), ansiolitik, hipnotik, dan antipsikotik.
  • Dapat mengubah efek komposisi senyawa lainnya seperti mexiletine, metoclopramide, dan domperidone.

wp-1515050639538..jpgEfek Samping dan Bahaya Codeine

Berikut adalah beberapa efek samping yang dapat dirasakan setelah mengonsumsi codeine:

  • Pusing, limbung.
  • Mulut kering.
  • Mual dan muntah.
  • Kehilangan nafsu makan.
  • Mudah merasa lelah.
  • Konstipasi.
  • Merasa nyeri pada perut.
  • Muncul ruam ringan pada kulit.

Segera temui dokter jika Anda mengalami efek samping sebagai berikut setelah menggunakan codein:

  • Demam.
  • Meriang atau gemetar.
  • Sulit tidur.
  • Denyut jantung tidak beraturan.
  • Napas pendek atau tidak beraturan.
  • Berkeringat secara tidak wajar.
  • Kulit atau mata menguning.
  • Penglihatan buram atau ganda.
  • Perubahan pada perilaku.
  • Kejang-kejang.
  • Gangguan pada sirklus menstruasi.
  • Impotensi atau kemandulan.
  • Pingsan.

Referensi

  • Shen H, He MM, Liu H et al. (August 2007). “Comparative metabolic capabilities and inhibitory profiles of CYP2D6.1, CYP2D6.10, and CYP2D6.17”. Drug Metab. Dispos. 35 (8): 1292–300. PMID 17470523. doi:10.1124/dmd.107.015354.
  • “Codeine intoxication associated with ultrarapid CYP2D6 metabolism”. Divisions of Surgical and Medical Intensive Care, Geneva University Hospital; Gasche Y, Daali Y, Fathi M, Chiappe A, Cottini S, Dayer P, Desmeules J. Diakses tanggal 2010-10-13.
  • “Opioid Metabolism”. Department of Anesthesiology, Albany Medical College, Howard S. Smith. Diakses tanggal 2010-10-13.
  • Disposition and metabolism of codeine after single and chronic doses in one poor and seven extensive metabolisers”. Department of Clinical and Experimental Pharmacology, University of Adelaide, Department of Clinical Pharmacology, Royal Adelaide Hospital and 3School of Chemical Technology, South Australian Institute of Technology, Z. R. CHEN, A. A. SOMOGYI, G. REYNOLDS & F. BOCHNER. Diakses tanggal 2010-10-13.

wp-1514709541961..jpg

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s