Captopril, Obat Hipertensi dan Jantung Pilihan Utama

Captopril, Obat Hipertensi dan Jantung Pilihan Utama

Captopril adalah obat yang masuk ke dalam kelompok penghambat enzim pengubah angiotensin (ACE inhibitors). Fungsi utama captopril adalah untuk mengobati hipertensi dan gagal jantung. Selain itu, obat ini juga berguna untuk melindungi jantung setelah terjadi serangan jantung, serta menangani penyakit ginjal akibat diabetes (nefropati diabetik). Captopril bekerja dengan cara menghambat produksi hormon angiotensin 2. Dengan begitu, dinding pembuluh darah akan lebih rileks sehingga tekanan darah menurun, serta suplai darah dan oksigen ke jantung menjadi meningkat. Obat ini dapat digunakan secara tunggal atau dikombinasikan dengan obat antihipertensi lainnya. Bagi pasien gagal jantung, captopril dapat mengurangi kadar cairan yang berlebihan dalam tubuh sehingga meringankan beban kerja jantung dan memperlambat perkembangan gagal jantung.

Obat Generik :

  • Captopril / Kaptopril

Merrk Dagang Obat Bermerek :

  • Acepress
  • Capoten
  • Captensin
  • Casipril
  • Dexacap
  • Farmoten
  • Forten
  • Lotensin
  • Metopril
  • Otoryl
  • Praten
  • Scantensin
  • Tensicap
  • Tensobon
  • Vapril

KOMPOSISI / KANDUNGAN

  • Captopril 12,5 mg : Tiap tablet mengandung Captopril 12,5 mg.
  • Captopril 25 mg : Tiap tablet mengandung Captopril 12,5 mg.
  • Captopril 50 mg : Tiap tablet mengandung Captopril 12,5 mg.  

Tentang Captopril

Golongan Penghambat enzim pengubah angiotensin (ACE inhibitor)
Kategori Obat resep
Manfaat
  • Menangani hipertensi dan gagal jantung
  • Mencegah komplikasi setelah serangan jantung
  • Menangani nefropati diabetik
Dikonsumsi oleh Dewasa dan anak-anak
Bentuk obat Tablet
Kategori kehamilan dan menyusui Kategori D: Ada bukti positif mengenai risiko terhadap janin manusia, tetapi besarnya manfaat yang diperoleh mungkin lebih besar dari risikonya, misalnya untuk mengatasi situasi yang mengancam jiwa.

Peringatan:

  • Wanita yang sedang merencanakan kehamilan, sedang hamil, dan menyusui, dilarang mengonsumsi captopril.
  • Harap berhati-hati jika menderita gangguan ginjal (termasuk yang menjalani cuci darah atau hemodialisis), gangguan hati, diabetes, ketidakseimbangan cairan tubuh (misalnya dehidrasi atau diare), lupusskleroderma, stenosis aorta, angioedema, atau pernah menjalani transplantasi ginjal.
  • Jika mengonsumsi captopril, sebaiknya tidak mengemudi atau mengoperasikan alat berat. Obat ini dapat menyebabkan pusing.
  • Jika menggunakan captopril, beri tahu dokter sebelum menjalani penanganan medis apa pun.
  • Jika terjadi reaksi alergi atau overdosis, segera temui dokter.

    FARMAKOLOGI

    • Captopril (kaptopril) adalah obat antihipertensi dan efektif dalam penanganan gagal jantung dengan cara supresi sistem renin angiotensin aldosteron.
    • Renin adalah enzim yang dihasilkan ginjal dan bekerja pada globulin plasma untuk memproduksi angiotensin I yang bersifat inaktif. Angiotensin Converting Enzyme (ACE), akan merubah angiotensin I menjadi angiotensin II yang bersifat aktif dan merupakan vasokonstriktor endogen serta dapat menstimulasi sintesa dan sekresi aldosteron dalam korteks adrenal.
    • Peningkatan sekresi aldosteron akan mengakibatkan ginjal meretensi natrium dan cairan, serta meretensi kalium. Dalam kerjanya, kaptopril akan menghambat ACE, akibatnya pembentukan angiotensin II terhambat, timbul vasodilatasi, penurunan sekresi aldosteron sehingga ginjal mensekresi natrium dan cairan serta mensekresi kalium. Keadaan ini akan menyebabkan penurunan tekanan darah dan mengurangi beban jantung, baik afterloadmaupun preload, sehingga terjadi peningkatan kerja jantung. Vasodilatasi yang timbul tidak menimbulkan efek takikardia.

    Interaksi Captopril dan Obat Lain

    Terdapat sejumlah obat yang berpotensi menimbulkan reaksi tidak diinginkan jika dikonsumsi bersama dengan captopril. Beberapa di antaranya meliputi:

    • Obat antiinflamasi nonsteroid (NSAIDs); dapat menurunkan keefektifan captopril dan meningkatkan risiko kerusakan ginjal.
    • Dextran sulfate, diuretik, atau nitrat; meningkatkan risiko hipotensi (tekanan darah rendah).
    • Everolimus atau sirolimus; berpotensi meningkatkan risiko angioedema.
    • Aliskiren atau angiotensin II receptor blockers; berisiko meningkatkan potensi efek samping, seperti gangguan ginjal, hiperkalemia (kadar kalium berlebih dalam darah), serta hipotensi.
    • Eplerenone, diuretik hemat kalium, suplemen kalium, atau trimethoprim; dapat meningkatkan risiko hiperkalemia.
    • Obat-obatan yang mengandung emas; bisa meningkatkan risiko hipotensi, mual, muntah, dan flushing (sensasi hangat, kulit memerah, serta geli).
    • Insulin atau obat diabetes lain; berpotensi menyebabkan hipoglikemia (kadar gula darah yang rendah).
    • Lithium atau thiopurine; efek sampingnya meningkat akibat captopril.

      INDIKASI

      • Untuk hipertensi berat hingga sedang, kombinasi dengan tiazid memberikan efek aditif, sedangkan kombinasi dengan beta bloker memberikan efek yang kurang aditif.
      • Untuk gagal jantung yang tidak cukup responsif atau tidak dapat dikontrol dengan diuretik dan digitalis, dalam hal ini pemberian captopril diberikan bersama diuretik dan digitalis.

      KONTRAINDIKASI

      • Penderita yang hipersensitif atau alergi terhadap captopril atau penghambat ACE lainnya (misalnya pasien mengalami angioedema selama pengobatan dengan penghambat ACE lainnya).
      • Wanita hamil atau yang berpotensi hamil.
      • Wanita menyusui.
      • Penderita gagal ginjal.
      • Stenosis aorta.

      DOSIS DAN ATURAN PAKAI

      Captopril harus diberikan 1 jam sebelum makan, dosisnya sangat tergantung dari kebutuhan penderita (individual).

      Dosis Captopril untuk Dewasa

      • Hipertensi : Dosis awal 12,5 mg, 3 kali sehari. Bila setelah 2 minggu penurunan tekanan darah masih belum memuaskan maka dosis dapat ditingkatkan menjadi 25 mg, 3 kali sehari. Bila setelah 2 minggu lagi, tekanan darah masih belum terkontrol sebaiknya ditambahkan obat diuretik golongan tiazid misal hidroklorotiazid 25 mg setiap hari. Dosis diuretik mungkin dapat ditingkatkan pada interval satu sampai dua minggu. Maksimum dosis captopril untuk hipertensi tidak boleh melebihi 450 mg dalam sehari.
      • Gagal Jantung : 12,5 – 25 mg, 3 kali sehari. Captopril diberikan bersama diuretik dan digitalis, dari awal terapi harus dilakukan pengawasan medik secara ketat. Untuk penderita dengan gangguan fungsi ginjal dosis perlu dikurangi disesuaikan dengan klirens kreatinin penderita.

      EFEK SAMPING

      • Pusing atau limbung, terutama saat bangkit berdiri.
      • Batuk kering.
      • Gangguan pada indera pengecap.
      • Detak jantung meningkat (takikardia).
      • Ruam kulit.
      • Sakit dada.
      • Hipotensi.
      • Rambut rontok.
      • Sulit tidur.
      • Mulut kering.
      • Konstipasi atau diare.
      • Captopril menimbulkan proteinuria lebih dari 1 gram sehari pada 0,5% penderita dan 1,2% penderita dengan penyakit ginjal. Dapat terjadi sindroma nefrotik serta membran glomerulopati pada penderita hipertensi. Karena proteinuria umumnya terjadi dalam waktu 8 bulan pengobatan maka penderita sebaiknya melakukan pemeriksaan protein urin sebelum dan setiap bulan selama 8 bulan pertama pengobatan.
      • Neutropenia/agranulositosis terjadi kira-kira 0,4% penderita. Efek samping ini terutama terjadi pada penderita dengan gangguan fungsi ginjal. Neutropenia ini muncul dalam 1 – 3 bulan pengobatan, pengobatan agar dihentikan sebelum penderita terkena infeksi. Pada penderita dengan risiko tinggi harus dilakukan hitung leukosit sebelum pengobatan, setiap 2 minggu selama 3 bulan pertama pengobatan dan secara periodik. Pada penderita yang mengalami tanda-tanda infeksi akut, pemberian captopril harus segera dihentikan karena merupakan petunjuk adanya neutropenia.
      • Hipotensi dapat terjadi 1 – 1,5 jam setelah dosis pertama dan beberapa dosis berikutnya, tapi biasanya tidak menimbulkan gejala atau hanya menimbulkan rasa pusing yang ringan. Tetapi bila mengalami kehilangan cairan, misalnya akibat pemberian diuretik, diet rendah garam, dialisis, muntah, diare, dehidrasi maka potensi hipotensi tersebut menjadi lebih berat. Maka pengobatan dengan captopril perlu dilakukan pengawasan medik yang ketat, terutama pada penderita gagal jantung yang umumnya mempunyai tensi yang normal atau rendah. Hipotensi berat dapat diatasi dengan infus garam faal atau dengan menurunkan dosis captopril atau diuretiknya.
      • Sering terjadi ruam dan pruritus, kadang-kadang terjadi demam dan eosinofilia. Efek tersebut biasanya ringan dan menghilang beberapa hari setelah dosis diturunkan.
      • Terjadi perubahan rasa, yang biasanya terjadi dalam 3 bulan pertama dan menghilang meskipun obat diteruskan.
      • Retensi kalium ringan sering terjadi, terutama pada penderita gangguan ginjal, sehingga perlu diuretik yang meretensi kalium seperti amilorida dan pemberiannya harus dilakukan dengan hati-hati.
      • Segera hentikan pemakaian captopril dan temui dokter jika Anda mengalami efek samping yang serius seperti angioedema (pembengkakan pada wajah, tangan, bibir, mata, tenggorokan, dan lidah), ruam yang parah, serta kulit dan bagian putih mata menguning.

      PERINGATAN DAN PERHATIAN

      • Keamanan penggunaan pada wanita hamil belum terbukti, bila terjadi kehamilan selama pemakaian obat ini, maka pemberian obat captopril harus dihentikan dengan segera.
      • Captopril harus diberikan dengan hati-hati pada wanita menyusui, pemberian ASI perlu dihentikan karena ditemukan kadar dalam ASI lebih tinggi dari pada kadar dalam darah ibu.
      • Pemberian pada anak-anak masih belum diketahui keamanannya, sehingga captopril hanya diberikan bila tidak ada obat lain yang efektif.
      • Pemakaian pada lanjut usia harus hati-hati karena sensitivitasnya terhadap efek hipotensif.
      • Hati-hati pemberian captopril pada penderita ginjal.
      • Pengobatan agar dihentikan bila terjadi gejala-gejala angioedema seperti bengkak mulut, mata, bibir, lidah, laring juga sukar menelan, sukar bernafas dan serak.
      • Konsultasikan ke dokter bila menggunakan suplemen potassium, potassium sparing diuretic dan garam-garam potassium.
      • Pemakaian obat penghambat ACE pada kehamilan dapat menyebabkan gangguan/kelainan organ pada fetus atau neonatus, bahkan dapat menyebabkan kematian fetus atau neonatus. Pada kehamilan trimester II dan III dapat menimbulkan gangguan antara lain : hipotensi, hipoplasia tengkorak neonatus, anuria, gagal ginjal reversibel atau irreversible, dan kematian. Juga dapat terjadi oligohidramnion, deformasi kraniofasial, perkembangan paru hipoplasia, kelahiran prematur, perkembangan retardasi-intrauteri, paten duktus arteriosus.
      • Bayi dengan riwayat dimana selama di dalam kandungan ibunya mendapatkan obat penghambat ACE, harus diobservasi intensif tentang kemungkinan terjadinya hipotensi, oligouria dan hiperkalemia.

      INTERAKSI OBAT

      • Alkohol.
      • Obat antiinflamasi terutama indometasin.
      • Suplemen potassium atau obat yang mengandung potassium.
      • Obat-obat berefek hipotensi.

      KEMASAN

      • Captopril 12,5 mg, tablet, kotak, 10 strip @ 10 tablet.
      • Captopril 25 mg, tablet, kotak, 10 strip @ 10 tablet.
      • Captopril 50 mg, tablet, kotak, 10 strip @ 10 tablet.

        Iklan

        Tinggalkan Balasan

        Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

        Logo WordPress.com

        You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

        Foto Google+

        You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

        Gambar Twitter

        You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

        Foto Facebook

        You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

        w

        Connecting to %s