Obat Baru Fibrosis Paru, Disetujui BPOM. Apakah Fibrosis Paru Itu ?

1517875236304-3.jpgObat Baru Fibrosis Paru, Disetujui BPOM. Apakah Fibrosis Paru Itu ?

Badan Pengawas Obat dan Makanan ( BPOM) menyetujui obat berjenis pirfenidone yang diproduksi perusahaan Roche Indonesia. Obat tersebut ditujukan kepada penderita fibrosis paru. Dettie Yuliati, Direktur Pelayanan Kefarmasian, Kementerian Kesehatan, mengatakan dalam acara temu media yang digelar Roche Indonesia di Jakartaseperti yang dilansir Kompas Jumat (2/3/2018), kami harus memberikan akses obat untuk penyakit langka. (Pirfenidone) tergolong orphan medicine, tetapi belum masuk ke formularium nasional. “Asosiasi pengampu dokter harus mengajukan beserta laporan data-data penderita jika ingin dimasukkan daftar formularium nasional,” ujarnya. Pada kesempatan tersebut, Persetujuan dari BPOM atas obat tersebut merupakan kabar baik bagi penderita penyakit fibrosis paru, mengingat pasien dengan penyakit langka tersebut memang sangat bergantung pada obat-obatan seumur hidupnya. Baca juga : Hati-Hati, Orang Lanjut Usia Rentan Terkena Penyakit Fibrosis Paru Selama ini, pasien penderita penyakit fibrosis paru kesulitan mendapatkan akses pengobatan yang memadai. Penanganan umumnya hanya berupa pemberian terapi oksigen. Ini tentu memperburuk kondisi pasien karena penyebaran luka parut pada jaringan paru cukup progresif. Padahal,di Jepang sudah ada studi klinis soal obat pirfenidone sejak tahun 2004. Di Amerika Serikat sudah ada sejak tahun 2014. Akhirnya, di Indonesia sudah mendapatkan obat tersebut dengan jalur fast track. Pirfenidone disediakan berbentuk tablet yang harus diminum pasien selama tiga kali dalam sehari, yakni pagi, siang, dan malam. Obat ini diminum dalam kondisi perut kosong, bisa satu jam sebelum makan atau dua jam sesudah makan. Pasien juga dilarang memakan jeruk bali karena efek keasaman pada jeruk bisa mengacaukan kerja obat. Pasien juga harus meminum obat tersebut terpisah dengan pemberian obat jenis lain. Konsumsi obat diusahakan jangan dibarengi dengan obat golongan aminovel. Obat ini hanya boleh diminumkan bagi pasien dengan indikasi fibrosis paru. Penderita fibrosis paru, kapasitas paru-parunya mengalami laju penurunan yang cepat yakni 200 mililiter per tahun. Dengan obat ini, laju penurunan tersebut bisa dicegah. Memang ada efek samping seperti reaksi di kulit dan sensitifitas terhadap cahaya matahari. Perlu diketahui, penyakit fibrosis paru ditandai dengan adanya luka parut pada pada jaringan paru-paru. Akibatnya, oksigen tertahan masuk ke paru-paru dan terhambat disalurkan ke organ-organ tubuh oleh darah. Pasien akan mengalami sesak napas berat dan penurunan fungsi kerja tubuh.

FIBROSIS PARU

Fibrosis paru adalah munculnya jaringan parut pada paru-paru yang menyebabkan kerusakan dan terganggunya fungsi paru-paru. Kerusakan ini menyebabkan jaringan di sekitar kantung udara di dalam paru-paru (alveolus) menebal dan kaku sehingga sulit bagi oksigen untuk masuk ke dalam darah. Seorang penderita fibrosis paru akan mengalami kesulitan bernapas diakibatkan kondisi yang terjadi pada paru-parunya tersebut. Kondisi ini dapat dipicu oleh berbagai faktor, namun penyebabnya yang sesungguhnya masih belum diketahui hingga kini sehingga penyakit ini biasa disebut juga dengan fibrosis paru idiopatik. Orang-orang yang berusia lanjut merupakan kelompok orang yang rentan terkena penyakit ini, yaitu usia 50 tahun ke atas. Angka kejadian pada pria tercatat lebih tinggi dibandingkan wanita. Pengobatan penyakit ini bertujuan untuk mengurangi gejala yang dirasakan penderitanya karena paru-paru yang rusak akibat ini tidak bisa diperbaiki.

Penyebab dan Faktor Resiko Fibrosis Paru

  • Kerusakan paru-paru dapat disebabkan oleh beberapa faktor yang berbeda, termasuk terapi radiasi maupun dari obat-obatan tertentu. Walau penyebab pastinya masih belum diketahui,
  • Kondisi medis. Fibrosis paru dapat berkembang dari beberapa penyakit yang dimiliki oleh seseorang, seperti pneumonia, rheumatoid arthritis, sarkoidosis, dermatomyositis, dan berbagai penyakit jaringan ikat.
  • Obat-obatan tertentu. Beberapa obat-obatan yang dapat merusak jaringan di paru-paru, antara lain obat kemoterapi, penyakit jantung, antiinflamasi, dan antibiotik.
  • Pengobatan dengan menggunakan terapi radiasi. Pengobatan ini akan merusak paru-paru jika dilakukan dalam jumlah yang banyak, waktu yang lama, terdapat penyakit paru yang mendasari, dan digabung dengan kemoterapi. Tanda-tanda kerusakan paru dapat mulai terlihat berbulan-bulan hingga tahunan sejak penderita pertama terpapar radiasi.
  • Faktor lingkungan yang berhubungan dengan pekerjaan atau okupasi. Lingkungan atau pekerjaan yang membuat seseorang terpapar zat beracun atau sumber polusi dalam jangka panjang juga dapat membahayakan paru-parunya. Beberapa zat dan pekerjaan yang berisiko, antara lain serbuk batu bara, asbes, silika, logam keras, butiran debu, kotoran hewan maupun burung, pekerja tambang, konstruksi, dan buruh tani.
  • Usia dan jenis kelamin. Fibrosis paru lebih banyak dialami oleh pria lansia dan dewasa dibanding perempuan ataupun anak-anak.
  • Faktor keturunan. Beberapa fibrosis paru diturunkan dalam keluarga sehingga faktor gen dapat menjadi faktor risiko dari kondisi ini.
  • Kebiasaan merokok. Asap tembakau, perokok, maupun orang yang pernah merokok, serta penderita emfisema akan memiliki risiko terkena fibrosis paru lebih besar dibanding orang yang tidak merokok sama sekali.

Gejala Fibrosis Paru

Gejala dan tingkat keparahan fibrosis paru dapat berbeda-beda pada masing-masing penderita. Penderita yang satu dapat mengalami gejala yang berat dengan kondisi yang memburuk dengan cepat, sementara penderita lainnya hanya mengalami gejala yang sedang dengan perkembangan yang lebih lambat.

Gejala fibrosis paru berkembang secara berkala, biasanya berlangsung selama lebih dari 6 bulan, dengan gejala yang paling sering dialami adalah sesak nafas dan batuk. Berikut adalah gejala fibrosis paru lainnya yang perlu diperhatikan:

  • Nafas yang pendek hingga penderita mengalami kesulitan bernapas dengan baik (dyspnea), bahkan ketika melakukan aktivitas yang tergolong ringan, misalnya berpakaian. Tidak sedikit orang yang menganggap gejala ini sebagai akibat dari pertambahan usia atau kurangnya olahraga.
  • Kelelahan
  • Batuk kering
  • Nyeri otot dan sendi
  • Berkurangnya berat badan tanpa sebab yang jelas
  • Ujung jari tangan dan kaki yang melebar dan membulat

Penderita dengan gejala yang memburuk dalam hitungan hari atau minggu akan memerlukan penanganan khusus dari dokter. Segera temui dokter jika Anda mengalami kesulitan bernapas selama beberapa waktu dan batuk yang berlangsung selama lebih dari 3 minggu.

Diagnosis Fibrosis Paru

  • Sebelum merekomendasikan pengobatan apa yang sesuai untuk penderita fibrosis paru, dokter akan melakukan proses diagnosis yang terdiri dari evaluasi riwayat penyakit pasien dan keluarga, pemeriksaan fisik, dan berbagai tes penunjang.
  • Selain itu, dokter juga akan memeriksa gejala dan bertanya apakah pasien pernah terpapar zat-zat tertentu yang bisa menjadi pemicu penyakit ini. Pada pemeriksaan fisik, dokter akan memeriksa kemampuan paru-paru dengan mendengarkan pasien bernapas.
  • Terdapat beberapa jenis tes penunjang yang mungkin harus dilalui penderita guna memastikan gejala dan diagnosis fibrosis paru, yaitu:
  • Tes darah. Tes ini dilakukan untuk mengevaluasi fungsi hati dan ginjal dan sekaligus untuk menyingkirkan kemungkinan kondisi kesehatan lainnya.
  • Tes fungsi paru. Beberapa jenis tes yang mungkin dilakukan adalah:
  • Spirometri – Mengukur sebanyak apa udara yang bisa dihirup, ditahan, dan dikeluarkan dari paru-paru.
  • Oksimeteri nadi – Mengukur saturasi udara di dalam darah.
  • Uji tekanan – Dilakukan ketika pasien beraktivitas di atas treadmill atau sepeda statis untuk mengetahui fungsi paru ketika sedang beraktivitas.
  • Analisa gas darah – Mengukur kadar oksigen dan karbondioksida di dalam darah dengan menggunakan contoh darah pasien.
  • Tes pencitraan (pindai) tubuh. Beberapa jenis pemindaian tubuh yang mungkin dilakukan adalah:
  • X-ray dada – Untuk mencari tahu jaringan parut pada paru-paru dan memantau perkembangan penyakit dan pengobatan yang sedang dijalani.
  • CT scan – Untuk mengetahui seberapa besar kerusakan yang dialami oleh paru-paru dengan lebih jelas.
  • Ekokardiogram – Untuk mengetahui struktur dan fungsi jantung khususnya tingkat tekanan pada ventrikel kanan jantung yang bisa memicu komplikasi gagal jantung.
  • Tes jaringan atau biopsi. Tes ini dilakukan dengan cara mengambil sebagian kecil jaringan paru-paru untuk diperiksa di laboratorium. Beberapa jenis biopsi yang umumnya dilakukan adalah:
  • Bronkoskopi – Untuk mendapatkan contoh jaringan yang lebih kecil menggunakan tabung kecil yang fleksibel yang dimasukkan melalui mulut atau hidung hingga ke paru-paru.
  • Biopsi melalui prosedur operasi  – Untuk mendapatkan contoh jaringan yang lebih besar menggunakan prosedur bedah torakoskopik dengan bantuan video (VATS) atau prosedur torakotomi yaitu bedah terbuka. Kedua prosedur ini dilakukan dengan cara membuat irisan di area dada, tepatnya di antara tulang rusuk, dan dengan bius umum pada penderita.

Pengobatan Fibrosis Paru

  • Kerusakan paru-paru pada kondisi ini hanya dapat diperlambat dan dikurangi dampak dari gejalanya dengan pemberian obat-obatan dan melakukan rangkaian terapi. Apabila terapi konvensional dengan obat-obatan gagal, transplantasi paru mungkin akan direkomendasikan oleh dokter Anda. Berikut adalah beberapa metode pengobatan fibrosis paru yang umum dilakukan.
  • Obat-obatan – Untuk memperlambat perkembangan fibrosis paru dan gangguan saluran pencernaan yang umumnya dialami oleh pemilik kondisi ini. Beberapa contoh obat-obatan, yaitu pirfenidone, nintedanib. Beberapa efek samping dari obat-obatan ini, antara lain ruam, mual, dan diare.
  • Rehabilitasi paru – Untuk mengurangi gejala dan menunjang fungsi tubuh, melatih ketahanan fisik, dan meningkatkan teknik pernapasan guna melatih efisiensi paru.
  • Terapi oksigen – Untuk membuat latihan dan pernapasan itu sendiri menjadi lebih mudah, mengurangi risiko terjadinya komplikasi akibat kadar oksigen yang rendah, dan mengurangi tekanan darah di sisi kanan jantung. Terapi ini juga akan membantu memperbaiki kualitas tidur dan kesejahteraan hidup penderita. Terapi dapat diberikan ketika pasien tidur atau latihan, dan ada juga yang menggunakannya setiap saat.
  • Transplantasi paru – Selain manfaat baik dari transplantasi paru, dokter akan mendiskusikan juga risiko komplikasi berupa penolakan tubuh terhadap organ pengganti kepada pasien.

Komplikasi 

  • Komplikasi paru, misalnya penggumpalan darah di paru-paru, infeksi paru-paru, atau paru-paru yang gagal berfungsi.
  • Gagal pernapasan sebagai akibat penyakit paru yang parah, ketika kadar oksigen di paru-paru berada di level yang sangat rendah
  • Tekanan darah tinggi dalam paru-paru atau hipertensi pulmonal ketika jaringan parut memengaruhi pembuluh darah paru dan menyebabkan aliran darah terganggu.
  • Gagal jantung sisi kanan atau cor pulmonale, yaitu disebabkan oleh ventrikel jantung sebelah kanan bawah yang bekerja terlalu keras memompa darah melalui pembuluh darah paru yang tersumbat.
  • Kanker paru-paru yang berkembang dari fibrosis paru jangka panjang

1516779535791_crop_958x314-4.jpgwp-1515860202398..jpg

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s